dit'

IMPOR MIGAS DAN SEBARANNYA
YUHALS

Impor Produk Migas dan turunan nya dilakukan sepanjang waktu. Hal ini karena kebutuhan migas tidak dapat ditutupi oleh produksi migas dalam negeri. Disamping itu,  dengan alasan ekonomi lebih menguntungkan impor produk migas tertentu, dibandingkan memproduksi nya.

Indonesia impor minyak mentah ( crude oil),  karena spesifikasi minyak produksi dalam negeri tidak cocok untuk beberapa kilang. oleh karena itu impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kilang  ybs.

Impor BBM dilakukan  karena konsumsi  BBM Dalam negeri terus meningkat, melebihi kapasitas produksi dari kilang minyak di Indonesia. Dan Impor merupakan jalan yang ditempuh pemerintah untuk memenuhi kekurangan pasokan BBM dari kilang dalam negeri. 

Impor produk Non BBM karena adanya permintaan non BBM dengan spesifikasi tertentu, dan produksi kilang minyak atau produksi kilang gas belum dapat memenuhinya. Disamping itu dalam masa era globalisasi,  impor dapat dilakukan oleh siapa saja, atas permintaan konsumen dalam negeri yang menghendaki produk petrokimia, karena alasan harga, kemasan atau lainnya.

Minyak mentah di impor selama ini untuk kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Karena kedua kilang inilah yang menggunakan pasokan minyak mentah impor, sesuai dengan kapasitas dan spesifikasi kilang. Untuk kilang lain masih menggunakan minyak produksi dalam negeri.

Impor BBM dilakukan pada daerah yang kekurangan pasokan BBM dan yang memiliki fasilitas tangki BBM (fuel  storage ) berukuran besar. Keberadaan tangki ini menjadi persyaratan utama. karena impor BBM dalam bentuk curah, akan menggunakan kapal tanker berkapasitas angkut besar. Untuk perdagangan internasional kapasitas minimal kapal tanker adalah  20.000 dwt, bila kurang dari itu sulit mendapatkan kapal yang bersangkutan, disamping harga angkut menjadi mahal.

Produk Non BBM digunakan untuk bahan baku dan penunjang kilang, industri, transportasi, dan rumah tangga. Bila dalam bentuk curah maka pelabuhan bongkar harus yang memiliki fasilitas tanki yang memadai. Pada pelabuhan umum lebih banyak impor produk Non BBM dalam bentuk kemasan ( kaleng, drum ), dan hal ini dapat dilakukan oleh importer umum.

Komoditi impor

Komoditi  impor yang ada dalam Harmonized system ( HS) untuk produk migas sebanyak 57 jenis, dan yang di impor 54 jenis. Dengan jumlah   44,3 juta ton, dengan nilai sebesar 42,6 milyar USD.
Dari jumlah tersebut impor minyak mentah dan condensate tahun 2012 sebesar 12,5  juta ton  atau sebesar 28 persen dari total impor migas. Dengan nilai sebesar 10,8  milyar USD atau sebesar 25 persen dari nilai impor migas.

Impor BBM sebesar 25,4  juta ton, atau sebesar 57 persen dari impor migas. Dengan nilai 25,6 milyar USD, atau sebesar 60 persen dari nilai impor migas tahun 2012. Impor non BBM sebesar 6,3  juta ton atau sebesar 14 persen dari impor migas, dengan nilai 6,1  milyar USD atau 14 persen dari nilai total migas.



Tabel
IMPOR MIGAS 2012
KETERANGAN
NILAI
BERAT
NILAI
BERAT
Milyar USD
Juta TON
PERSEN
PERSEN
CRUDE OIL DAN OTHER CRUDE
10,8
12,5
25
28
BBM
25,6
25,4
60
57
NON BBM
6,1
6,3
14
14
Sumber : diolah dari BPS


Penyebaran impor Minyak mentah
Penyebaran Impor minyak mentah dan kondensate tahun 2012 Sebanyak 62 persen untuk kebutuhan kilang Cilacap. Dan Sebesar  35 persen untuk kilang Balikpapan. Sedang untuk pelabuhan lain sebesar 3,4 persen.

Untuk kedua kilang ini ( kilang Cilacap dan Balikpapan) impor dilakukan secara rutin, dengan frekuensi impor yang besar . Sedang untuk kilang lainnya impor relative kecil dan tidak rutin.

Pada kilang cilacap, sumber   impor tahun 2012 berasal dari 12 negara. Yaitu angola, Australia, Azerbaijang, brunei Darussalam, republic korea, libiya, Malaysia, Negeria, Qatar, federasi Rusia, Saudi Arabia, dan Vietnam. Dengan Negara asal terbesar adalah pertama Saudi Arabia 52  persen, kedua Nigeria sebesar 20  persen, ketiga Brunei Darussalam sebesar  9   persen, dan negara  lainnya sebesar 18 persen.

Pada kilang Balikpapan,  impor berasal dari 14 negara yaitu: Azerbaidan, Negeria, Angola, Malaysia, Brunei Darussalam, Algeria, republik korea, Libiya, Turki, Federasi Rusia, Australia,Sudan, China, dan Vietnam.  Negara asal terbesar adalah pertama Azerbaidan sebesar 22  persen, kedua Nigeria sebesar 21 persen, ketiga Angola sebesar 13 persen, keempat Malaysia sebesar 12 persen, kelima Brunei Darussalam sebesar 7 persen, keenam Algeria sebesar 7 persen,  dan Negara lainnya sebesar 18 persen.

Penyebaran impor BBM

Penyebaran impor BBM pada  22 provinsi.  Provinsi tersebut adalah : Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, Sumatra Barat, Banten, Lampung, Sulawesi Selatan, Riau, Maluku, Papua, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Bali, Bengkulu, Sulawesi Utar, Bangka Belitung, dan Nusa Tanggara Barat.  

Provinsi yang terbesar impor BBM ada 9 Provinsi, yaitu :  (1)  Jawa Timur ( pelabuhan Tanjung Perak) sebesar 26,8 persen. (2) DKI Jakarta( pelabuhan Tanjung Priok) sebesar 13,7 persen. (3) Kalimantan Selatan ( pelabuhan Kotabaru) sebesar 10,2 persen.  (4) Jawa Barat ( pelabuhan Balongan)  sebesar 8,8 persen. (5) Jawa Tengah ( pelabuhan tanjung emas dan Cilacap)  sebesar 8,0 persen. (6) Kep. Riau (pelabuhan Panau dan Pulau Sambu) sebesar 6,4 persen. (7) Sumatra Utara ( pelabuhan Belawan) sebesar 4,8 persen. (8) Sumatra Barat ( pelabuhan teluk bayur)  sebesar 3,5 persen. (9) Banten ( pelabuhan Merak )  sebesar 3,1 persen. lainnya sebesar 10,6 persen.


Penyebaran impor Non BBM

Impor non BBM  terdiri dari  38  jenis barang non BBM, dengan jumlah  6,3 juta ton, dan nilai 6,1 milyar USD. Dari jenis barang Non BBM dibagi dalam 3 katagori, yaitu besar, menengah, dan kecil. katagori  besar ada 4 jenis barang. Katagori menengah ada 5 jenis medium, dan katagori kecil ada 29 jenis.

4 jenis barang yang besar adalah: (1)  Liquid butane, (2) naphtha, (3) liquid butane, dan (4) petroleum bitumen.
Jenis Non BBM menengah adalah (1)  lubricating oil basettock, (2) carbon black feedstock (3) other lubricating oils, (4) normal paraffin, dan (5) petroleum coke.
Impor empat jenis besar ini sebesar  5,4 juta ton , atau 85,8 persen. 5 jenis yang medium sebesar 0,6 juta ton, atau 9,9 persen. dan  Yang 29 kecil lainnya sebesar 0,3  juta ton, atau 4,8 persen.
Penyebaran 4 jenis produk Non BBM besar adalah :
(1) impor Liquid butane sebesar 1,8 juta ton. menyebar pada daerah  kepulauan riau sebesar 87 persen, dan jawa timur sebesar 12 persen, daerah lainnya 1 persen.
(2) impor Naftha sebesar 1,5 juta ton. menyebar pada daerah jawa barat sebesar 52 persen, daerah banten sebesar 47 persen. daerah lainnya sebesar 1 persen.
(3) Impor Liquid Propane sebesar 1,3 juta ton. menyebar pada daerah lampung sebesar 59 persen, daerah kepulauan riau sebesar 36 persen, daerah lainnya sebesar 5 persen.
(4) Impor Petroleum Bitumen sebesar 0,8 juta ton. Menyebar pada daerah Riau sebesar 31 persen, daerah Sumatra utara sebesar 25 persen, daerah Sumatra selatan sebesar 19 persen, daerah Nusa Tenggara Timur sebesar 11 persen, dan daerah lainnya sebesar 14 persen.

Kesimpulan

Impor migas tahun 2012  sebesar 44,3 juta ton, senilai 42,6 milyar USD. Terdiri dari 28 persen minyak mentah, 57 persen BBM, dan 14 persen non BBM. Dan akan terus meningkat karena permintaan masyarakat akan BBM  cendrung meningkat, sedangkan produksi dalam negeri cendrung menurun.

Impor minyak mentah 97 persen untuk kebutuhan kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Kilang cilacap 62 persen, dan kilang Balikpapan 35 persen. kedua kilang tersebut tidak sepenuhnya menggunakan minyak impor, tetapi dicampur dengan minyak mentah lokal. Melihat kondisi ini kilang tersebut bukan tidak dapat sepenuhnya menggunakan minyak lokal, tetapi berdasarkan pertimbangan optimalisasi operasional, pihak PT Pertamina menetapkan mencampurkan minyak mentah lokal dengan minyak impor.

Impor BBM ditetapkan pemerintah untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang cendrung meningkat, sedangkan kapasitas kilang minyak relative tetap. Kedepan peningkatan impor BBM akan terus terjadi, sampai pemerintah via PT Pertamina membangun kilang baru. Bila kilang baru dapat dioperasionalkan, maka peningkatan impor BBM akan digantikan dengan peningkatan impor minyak mentah, karena produksi minyak mentah Indonesia cendrung menurun.

Penyebaran daerah yang mengimpor BBM pada 22 provinsi, dan yang besar  pada 9 provinsi, yang memiliki aktifitas ekonomi yang tinggi.

Impor produk Non BBM diwarnai dengan impor LPG ( Liquid butane, dan liquid propane ), hal ini karena kebijakan pemerintah konversi minyak tanah ke LPG. Penyebaran utama liquid butane adalah kepulauan Riau 87 persen, jawa timur 12 persen. penyebaran liquid propane pada daerah lampung 59  persen, dan Kepulauan Riau 36 persen. dari kedua jenis LPG ini daerah Kepulauan Riau merupakan importer utama. Hal ini tampaknya LPG digunakan sebagai pendukung kegiatan industri perminyakan.

Penyebaran produk Non BBM Naftha adalah daerah jawa barat 52 persen, dan Banten 47 persen. Hal ini terkait dengan naphtha sebagai bahan pencampur BBM , dan bahan baku industri. Untuk produk petroleum bitumen penyebaran pada daerah Riau 31 persen, Sumatra Utara 25 persen, Sumatra selatan 19 prsen, dan NTT 11 persen, menunjukan bahwa daerah tersebut banyak pembangunan infra struktur.

Jakarta, 25 April 2012



KILANG MINYAK DI INDONESIA
YUHALS

Indonesia memiliki 10 (sepuluh) kilang minyak, 8 kilang milik  PT Pertamina (Persero) dan 2 kilang milik Badan Usaha swasta dengan total kapasitas pengolahan kilang minyak adalah sebesar 1,156 juta barrel per hari atau 420,1 juta barel pertahun. 


kapasitas kilang PT Pertamina yaitu Pangkalan Brandan berkapasitas pengolahan 4,5 ribu barrel per hari (sudah tidak beroperasi sejak 2007), Dumai (127 ribu barrel per hari atau 46,4 juta barel pertahun), Sungai Pakning (50 ribu barrel per hari atau 18,2 juta barel pertahun ), Musi (127,3 ribu barrel per hari atau 46,5 juta barel pertahun), Cilacap (348 ribu barrel per hari atau 127,0 juta barel pertahun), Balikpapan (260 ribu barrel per hari atau 94,9 juta barel pertahun), Balongan (125 ribu barrel per hari atau 45,6 juta barel pertahun ), serta Kasim (10 ribu barrel per hari atau 3,6 juta barel pertahun ). Selain itu terdapat kilang minyak yang dikelola Pusdiklat Migas Cepu berkapasitas 3,8 ribu barrel per hari atau 1,4 juta barel pertahun . kilang minyak yang dimiliki badan usaha swasta yaitu PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) berlokasi di Tuban dengan kapasitas 100 ribu barrel per hari atau 36,5 juta barel pertahun bahan baku kondensat).  dan  Tri wahana Universal ( TWU )  belum ada datanya. *) diolah dari ditjen Migas


Dari 10 kilang minyak yang berproduksi di Indonesia Tahun 2011 , memproduksi 10 jenis BBM dan 36 jenis non BBM. Dengan Produksi BBM sebesar 240,3 juta barel atau sebesar 70,1 persen, dan 102,5 juta barel non  BBM atau sebesar 29,9 persen, total produksi BBM dan Non BBM sebesar 342,8 juta barel.
Untuk memproduksi BBM dan Non BBM tersebut dibutuhkan pasokan sebesar   296,9 juta barel minyak mentah ( produksi domestik   218,6 juta barel, impor  78,3 juta barel) atau 81,2 persen, kondensate sebesar 24,1 juta barel atau 6,6 persen, dan  bahan lain sebesar 44,8 juta barel atau 12,2 persen. total pasokan 365,8 juta barel.
Secara persentase dari pasokan sebesar 365,8 juta barel menghasilkan 342,8 juta barel BBM dan Non BBM, atau sebesar  93,7 persen dari pasokan bahan.

Produktivitas
Produktivitas diukur dari  pasokan bahan di bagi kapasitas  terpasang kilang. makin tinggi  ratio yang dihasilkan berarti makin produktif kilang yang bersangkutan.
Pasokan total kilang Indonesia  tahun 2011 sebesar 365,8  juta barel, sedang kapasitas produksi 420,1  juta barel pertahun. Produktivitas Sebesar 87,1 persen,  tingkat produktivitas cukup baik.

Tingkat produktivitas kilang dumai sebesar 98,8 persen,  kilang S.Pakning sebesar 79,2 persen, kilang Musi sebesar 79,2 persen, cilacap sebesar 84,0 persen, Balikpapan sebesar 90,0 persen, balongan 127,5 persen, kasim 0,2 persen, cepu 25,0 persen, TPPI sebesar 55,5 persen.

Kilang minyak yang miliki tingkat produksi besar relative memiliki tingkat produktivitas cukup baik. Pada Kilang balongan 127,5 persen, berarti sudah over kapasitas. Hal ini dapat mempercepat proses kerusakan mesin, karena  berproduksi diatas kemampuan.
 Kilang minyak yang memiliki produktivitas dibawah 75 persen, harus dapat meningkatkan produktivitasnya, karena tingkat produktivitas yang rendah akan mengakibatkan kerugian .

Produksi BBM

Produksi BBM tahun 2006 sebesar  251,0 juta barel, tahun 2009 sebesar 254,9 juta barel berarti  naik sebesar 1,5 persen,  dan tahun 2011 sebesar 240,3 juta barel, berarti  turun 4,3 persen dibanding tahun 2006.
Dari BBM yang di produksi tahun 2011, ada 2 jenis yang terbesar adalah premium sebesar 64,4 juta barel atau 26,8 persen, dan solar (HSD) sebesar 119,6 juta barel atau sebesar 49,8 persen. Kedua jenis ini diproduksi sebesar 184,0 juta barel atau   76,6 persen dari produksi BBM nasional.

Produksi BBM lainnya adalah avtur  17,1 juta barel, kerosene 14,4 juta barel, diesel oil/IDO  1,4 juta barel, fuel oil/IFO 20,3 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,4 juta barel, pertadex 0,03 juta barel

Produksi BBM masing masing kilang tahun 2011 adalah kilang dumai 36,1 juta barel atau sebesar 15 persen, kilang s.pakning sebesar 4,0 juta barel atau sebesar 1,7 persen, kilang Musi sebesar 23,6 juta barel atau 9,8 persen, kilang cilacap sebesar 80,0 juta barel atau 33,3 persen, kilang Balikpapan sebesar 61,5  juta barel atau 25,6 persen, kilang Balongan sebesar 31,7  juta barel atau 13,2 persen, kilang kasim sebesar 3 ribu barel, kilang cepu sebesar 162  ribu barel atau 0,1 persen, kilang TPPI sebesar 3,2 juta barel atau 1,3 persen, dan kilang TWU tidak ada data. Untuk produksi BBM terbesar adalah kilang cilacap, setelah itu kilang balik papan, Dumai , dan Balongan.

Produksi Non BBM

Jenis produksi non BBM  yang terbesar adalah naptha sebesar 28,6 juta barel atau 27,9 persen, LSWR sebesar 24,0 juta barel atau 23,4 persen, HOMC sebesar 11,9 juta barel atau  11,6 persen, dan LPG sebesar 9,1 juta barel atau 8,9 persen. jadi produksi LPG pada kilang minyak menduduki  urutan ke empat.

Produksi Non BBM dari kilang minyak sangat menarik, karena perkembangannya sangat cepat tahun 2006 produksi sebesar 20,1 juta barel, tahun 2009 naik menjadi 88,2 juta barel berarti  naik 439 persen atau 4 kali lebih, dan tahun 2011 naik menjadi 102,5 juta barel atau naik 510 persen dibanding  tahun 2006. Dengan peningkatan produksi non BBM yang cukup besar dan tingkat produktivitas yang tinggi pada kilang minyak, maka akan mengurangi produksi BBM, karena sebagian kapasitas produksi dialihkan untuk produksi Non BBM.

Tidak semua kilang memproduksi semua jenis produk non BBM, tergantung dari : spesifikasi  minyak mentah yang dipasok, peralatan dari kilang, dan optimalisasi produk.

Dari 36 produk yang dihasilkan oleh kilang ada 13 jenis produk non BBM yang produksinya diatas 1 juta barel tahun 2011. yaitu (1) LPG, (2) Lube base oil, (3) aspalt, (4) Naptha, (5)  LSWR, (6) LSFO,(7) Green coke, (8) HOMC, (9) propylene,  (10) benzene, (11) pararaxylene, (12) unconverted oil, (13) decant oil. Prodvuksi ke 13 jenis non BBM ini tahun 2011 sebesar 100,4 juta barel, atau 97,9 persen dari total produk non BBM.

Produksi LPG tahun 2011 oleh kilang dumai  0,4 juta barel, musi 1.2 juta barel, cilacap 1.3 juta barel, Balikpapan sebesar 1,3 juta barel, balongan 4,3 juta barel, TPPI 0,9 juta barel. Total  9,1 juta barel.

Produk Lube base oil di produksi kilang cilacap sebesar 3,0 juta barel. Aspalt diproduksi oleh cilacap 2,0 juta barel.

Naptha diproduksi oleh kilang dumai 0,3 juta barel, s.pakning 0,8 juta barel, Musi  6,2 jura barel, cilacap 8,9 juta barel, Balikpapan 6,7 juta barel, cepu 0,09 juta barel, TPPI 5,6 jta barel, total 28,6 juta barel.

LSWR diproduksi oleh dumai 0,2 juta barel, s.pakning 7,0 juta barel, cillacap 3,8 juta barel, balik papan 13 juta barel, total 24 juta barel. LSFO diproduksi oleh musi sebesar 4,6 juta barel.

Green coke diproduksi oleh  Dumai 2,2 juta barel. HOMC diproduksin oleh balongan sebesar 11,9 juta barel. Propylene diproduksi oleh balongan 1,9 juta barel. Benzene diproduksi oleh TPPI sebesar 2,2 juta barel. Paraxylene diproduksi oleh TPPI sebesar 4,4 juta barel. Unconverted oil diproduksi oleh dumai 2,4 juta barel. Decant oil diproduksi oleh balongan  sebesar 4,1 juta barel.

Kondisi masing-masing kilang.
Secara persentase tahun 2011 dari pasokan (input) sebesar 365,8 juta barel menghasilkan (output) 342,8 juta barel ( BBM dan Non BBM), atau sebesar  93,7 persen.

kilang Dumai.
Bahan baku yang dipasok berupa  minyak mentah ( crude oil ) sebesar 37,8 juta barel, bahan lainnya 8,0 juta barel, total 45,8 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 41,6 juta barel atau  90,8 persen. berupa BBM sebesar  36,1 BBM atau 86,7 persen, dan non BBM sebesar 5,5 juta barel atau 13,3 persen.
BBM yang di hasil oleh kilang Dumai adalah  avtur 2,7 juta barel atau 7,5 persen. premium  6,4 juta barel atau 17,8 persen. kerosene 0,8 juta barel  atau 2,3 pesen. gas oil/HSD/ solar 30,0 juta barel atau 26 persen. fuel oil/MFO 0,2 juta barel atau 0,4 persen.
Produk non BBM yang dihasilkan sebesar 5,5 juta barel . berupa  LPG  sebesar 0,4 juta barel atau 8,0 persen. naptha 0,3 juta barel atau 5,3 persen. LSWR 0,2 juta barel atau 3,2 persen. green coke 2,4 juta barel atau 43,3 persen.

Kilang S.Pakning
Bahan baku yang dipasok tahun 2011. minyak mentah ( crude oil ) adalah sebesar 12,2 juta barel, bahan lainnya 0,1 juta barel, total 12,4 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 11,9 juta barel atau sebesar   96  persen. Berupa BBM sebesar  4,0 juta barel atau 33,7 persen, dan Non BBm sebesar 7,9 juta barel atau 66,3 persen.

BBM yang dihasilkan berupa kerosine sebesar  1,5 juta barel, gas oil/HSD/ solar sebesar 2,5 
juta barel.
Produk Non BBM yang dihasilkan Naptha 0,8 juta barel, LSWR sebesar  7,0 juta barel.


Kilang Musi
Pasokan minyak mentah sebesar 29,3 juta barel, condensate sebesar 3,9 juta barel, bahan lainnya sebesar 3,7 juta barel. Total pasokan bahan sebesar 36,8 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah BBM sebesar 23,6 juta barel, Non BBM sebesar 12,3 juta barel. Total produksi sebesar 35,9 juta barel, Jadi berarti  64,1 persen .

BBM yang dihasilkan kilang musi sebesar    23,6 ,juta barel. Terdiri dari avtur 0.4 juta barel, premium 6,9 juta barel, kerosene 1,2 juta barel, gas oil/hsd/solar 10,7 juta barel, diesel oil/ido/mdf  0,4 juta barel, fuel oil/ifo/mfo  4,1 juta barel.

Non BBm yang diproduksi kilang musi sebesar 12,3 juta barel, terdiri dari LPG 1,2 juta barel, Naptha 6,2 juta barel, LSFO 4,6 juta barel, lainnya 0,3 juta barel.

kilang cilacap
Pasokan kilang cilacap sebesar minyak mentah 44,8 juta barel, impor minyak mentah 55,9 juta barel, bahan lainnya 5,9 juta barel, total pasokan sebesar 106,7 juta barel. 
Mengahasilkan BBM sebesar 80 juta barel, dan Non BBM sebesar 19,7 juta barel. Total produksi 99,7 juta barel, atau 93,5 persen.

juta barel, gas oil/hsd/solar 30,3 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,8 juta barel, fuel oil/dco/ifo 16,0 juta barel. Total produk BBM sebesar 80,0 juta barel.

Produksi non BBM,  LPG 1,3 juta barel, lube base oil 3,1 juta barel, asphalt 2,0 juta barel, naptha 8,9 juta barel, LSWR 3,8 juta barel, lainnya 0,6 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 19,7 juta barel.

kilang Balikpapan
Pasokan kilang Balikpapan , minyak mentah sebesar 79,1 juta barel ( minyak domestik  56,7 juta barel , minyak mentah impor 22,4 juta barel ) , bahan lain 6,3 juta barel. Total pasokan sebesar 85,4 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar 61,5 juta barel, dan non BBM sebesar 21,1 juta barel. Total produksi sebesar 82,6 juta barel, atau 96,7 persen.

BBM yang dihasilkan terdiri dari avtur sebesar 5,5 juta barel,premium 14,3 juta barel, kerosene 7,4 juta barel, gas oil/hsd/solar 33,9 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,1 juta barel, fuel oil/ifo 0,01 juta barel. Total produkssi bbm sebesar 61,2 juta barel.

Produksi non BBM terdiri dari  LPG sebesar 1,0 juta barel, naptha 6,7 juta barel, LSWR 13 juta barel, lainya 0,5 juta bare. Total produksi non BBM sebesar 21,1 juta barel. atau  92,4 persen.

kilang balongan
Pasokan kilang minyak balongan terdiri dari minyak mentah 37,5 juta barel, bahan lainnya 20,7 juta barel. Total pasokan sebesar 58,2 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar  31,7 Juta barel,  dan produk non BBM sebesar 22,1 juta barel. Total produksi sebesar 53,8 juta barel.

BBM yang diproduksi  premium 15,7 juta barel, kerosene 0.2 juta barel, gas oil/HSD/Solar 12,8 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,2 juta barel, pertadex 0,03 juta barel, total BBM sebesar  31,7 juta barel.

Produksi non BBM  terdiri dari LPG sebesar 4,3 juta barel, HOMC sebesar 11,9 juta barel, propylene sebesar 1,9 juta barel, Decant oil sebesar 4,1 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 22,1 juta barel.

Kilang TPPI
Pasokan yang digunakan pada kilang TPPI tidak menggunakan minyak mentah, yang digunakan  adalah kondensate  sebesar  20,2 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah  BBM sebesar 3,2 juta barel, dan non BBM sebesar 13,7 juta barel. total yang diproduksi sebesar 16,9 juta barel, atau 83,7 persen.

BBM yang diproduksi adalah  Gas oil/HSD/ Solar sebesar 3,2 juta barel.
Produksi non BBM adalah LPG sebesar 0,9 juta barel, Naptha sebesar 5,6 juta barel, Benzene sebesar 2,2 jura barel, paraxylene sebesar 4,4 juta barel , produk lainnya 0,6 juta barel.Total produk Non BBM sebesar  13,7 juta barel.

Kilang Kasim dan Cepu relative kecil. kilang Tri Wahana Universal ( TWU ) tidak ada data.

Kesimpulan
1.        Dari 10 kilang minyak yang ada 1 kilang tidak memberikan laporan   ( TWU), 1 kilang kurang aktif ( kasim), 1 kilang skala kecil ( kilang cepu ). Untuk 7 ( tujuh) produktivitasnya baik.
2.        Semua kilang menjadikan minyak mentah produksi domestic sebagai bahan baku, kecuali TPPI menggunakan kondensat domestic, dan 2 (dua ) kilang menggunakan minyak mentah impor sebagai tambahan pasokan bahan baku yang kurang, yaitu kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Dari kondisi ini bila terjadi pengurangan ekspor minyak mentah produksi domestik maka akan dapat diserap oleh kilang minyak yang ada. Bila pemerintah akan membangun kilang baru berarti pasokan minyak mentahnya didapat dari impor.
3.        Produksi BBM terjadi penurunan walaupun kecil, dan penurunan kapasitas untuk produksi BBM ini di alaihkan untuk meningkatkan produksi non BBM.

Jakarta, 4 April 2013