dit'

PRODUKSI GAS BUMI


Gas bumi dihasilkan dari penambangan sumur minyak. Pada penambangan minyak bisa terjadi menghasilkan minyak mentah dan condensate saja, dapat berupa minyak mentah,   kondensat , dan gas, atau dapat juga menghasilkan gas bumi saja.

Perusahaan yang menghasilkan Gas Bumi terdiri dari PT Pertamina ( Pertamina, pertamina JOB, pertamina TAC ) dan perusahaan Usaha bagi hasil produksi ( PSK ). Dari kedua jenis perusahaan ini  PT Pertamina (PT Pertamina ,pertamina  JOB, dan pertamina TAC ) tahun2011 memproduksi gas sebesar 428,7 Juta MSCF atau 13 persen, dan PSK produksi gas swebesar 2.828 juta MSCF, atau 87  persen. jadi produksi mayoritas dikelola oleh perusahaan usaha bagi produksi ( KPS).


Pemanfaatan produksi

Dari total produksi gas sebesar  3.256 juta MSCF yang digunakan sebesar 3.076 juta MSCF atau 94,5 persen, sisanya sebesar  179 juta MSCF hilang atau 5,5 persen. Bila dilihat dari gas hilang yang diproduksi pertamina sebesar 12,5 persen, dan yang dikelola oleh perusahaan KPS lebih kecil yaitu sebesar 4,4 persen, maka keuntungan yang diperoleh dari perusahaan KPS lebih besar.

Table 1
Produksi Gas tahun2011
Dlm MSCF
perusahaan
produksi
digunakan
persen
Total Pertamina + JOB + TAC
428,7
374,9
                87.5
Total Production Sharing
2,827,7
2,702,0
                95.6
Grand Total
3,256,4
3,076,9
                94.5
Sumber : diolah dari ditjen Migas


Pemanfaatan dari Produksi gas  yang di gunakan untuk : (1) digunakan sendiri, (2) local, (3) Pabrik pupuk, (4) kilang Gas, (5) LPG /lex, (6) Condensat, (7) bahan LNG, (8) perusahaan Gas Negara ( PGN), (9) Gas.  Pemanfaatan untuk digunakan sendiri diartikan dipakai untuk proses produksi,  berarti tidak diperdagangkan.

Produksi gas yang digunakan sendiri oleh pertamina sebesar  15 persen, sedang pada perusahaan KPS sebesar  12 persen. jadi produksi gas yang diperdagangkan lebih besar oleh perusahaan KPS sebesar 2 persen dibandingkan yang di kelola pertamina.


Tabel 2
Produksi untuk digunakan sendiri
C o m p a n y
Pruduksi Digunakan
Digunakan sendiri
Digunakan sendiri
dlm juta MSCF
dlm juta MSCF
persen
Total Pertamina + JOB + TAC
374,9
55,3
15
Total Production Sharing
2,702,0
327,9
12
TOTAL
3,076,9
383,2
12
Sumber : diolah dari ditjen migas


Pemanfaatan  Gas untuk komersil

Penjualan produksi Gas  oleh  pertamina kepada: (1) sebesar lokal  51 persen, (2) PGN sebesar 20 persen, (2) Pabrik pupuk sebesar 22 persen, (3) kilang gas sebesar 5 persen, dan(4)  LPG/lex pi sebesar 1 persen.

Penjualan Gas oleh Perusahaan KPS kepada:  (1) untuk LNG  sebesar 54 persen, (2) untuk lokal sebesar  15 persen, (3) untuk Gas sebesar 14 persen,  (4) untuk PGN sebesar 9 persen , (5) untuk pupuk sebesar 6 persen , (6) kilang Gas sebesar 1 persen, dan (7) sebesar 1 persen untuk LPG/lex pi.

Dari total produksi produksi gas digunakan untuk : (1) LNG sebesar 48,0 persen, (2) lokal sebesar 19,3  persen, (3) untuk gas sebesar 12,5 persen, (4) untuk PGN sebesar 9,9 persen, (5) untuk pupuk sebesar 8,4 persen, (6) untuk kilang  sebesar 1,2 persen, (7) untuk LPG/lex pi sebesar 0,5 persen, dan (8) untuk kondensat sebesar 0,2 persen.




                                                 Tabel 3
              PEMANFAATAN GAS UNTUK KOMERSILTAHUN 2011


pengguna
Total Pertamina + JOB + TAC
Total Production Sharing
total
L N G (FEED)
0
1,293,1
1.293,1
LOKAL
164,4
356,5
520.9
G A S
0
335,5
335.5
P G N
65,2
202,0
267.2
Fertilizer
71,1
154,0
225.1
Refinery
17,1
15,7
32.8
LPG/Lex Pl.
1,7
12,6
14.3
Condens
0
4,6
4.6
 TOTAL
319,5
                2.374,0
2693,.5
Sumber : diolah dari ditjen migas



Perusahaan KPS produsen Gas.

Perusahaan KPS yang memproduksi Gas  sebanyak 38 perusahaan, yaitu  23 perusahaan penambang onshore ( di darat) , dan 15  penambang  offshore ( lepas pantai). Dari 23 perusahaan di darat 4 perusahaan memproduksi diatas 50 juta MSCF, dengan kontribusi sebesar 85 persen dari produksi gas onshore, dan 19 perusahaan lainnya produksi dibawah 50 juta MSCF.

Pada perusahaan lepas pantai  7 perusahaan yang memproduksi diatas 50 juta MSCF, dengan kontribusi sebesar 91 persen dari produksi KPS offshore, dan 8 perusahaan lainnya memproduksi dibawah 50 juta MSCF.

Dari perusahaan KPS 7 perusahaan kps besar terdapat 2 wilayah produksi yang di kelola oleh PT Pertamina hulu energy, yaitu produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ produksi sebesar 104,0 juta MSCF, dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) – WMO dengan produksi 58,1 juta MSCF. Total kedua wilayah tersebut sebesar 162,1 juta MSCF , atau sebesar 8 persen dari produksi gas lepas pantai.


                                                    TABEL 4
                                 PRODUKSI GAS KPS   TAHUN2011

perusahaan onshore            
Dlm juta MSCF
persen
1
Conoco  Phillips Grissik Ltd
340,0
38
2
Exxon Mobil
168,5
19
3
Vico
149,1
17
4
Petrochina Jabung
96,9
11
5
lainnya
132,2
15
total onshore
886,7
100
perusahaan offshore
1
Total E & P Indonesie
876,9
45
2
BP Berau (Tangguh)
394,6
20
3
Conoco Phillips Natuna
209,3
11
4
Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ
104,0
5
5
Chevron Ind.Co
72,7
4
6
Premier Oil
58,3
3
7
Pertamina Hulu Energi (PHE) - WMO
58,1
3
8
lainnya
167,1
9
total offshore
1,941,0
100
Diolah : ditjen Migas


Kesimpulan

Perbandingan produksi yang dikelola Pertamina + pertamina JOB + pertamina TAC  dengan produksi yang dikelola oleh peruswahaan KPS, lebih efisien yang dikelola KPS.

Pemanfaatan produksi gas yang terbesar adalah untuk LNG sebesar 48 persen dari produksi gas nasional, dan LNG sebagian besar diekspor, sehingga bila kebutuhan gas nasional meningkat masih dapat di pasok dari produksi gas dalam negeri. Dan bila dibandingkan dengan harga bahan bakar minyak, harga gas masih lebih murah. Oleh karena itu konversi penggunaan bahan bakar minyak kepada gas dapat menghemat devisa Negara, disamping cadangan gas nasional masih cukup besar .

Jakarta, 14 mei 2013


EKSPOR MIGAS DAN SEBARANNYA

Ekspor Migas di Indonesia dilakukan sejak ditemukannya minyak dan dikembangkan awal abad ke 19 oleh pemerintah belanda. Menariknya adalah seluruh lapangan minyak yang ada sekarang sebagian besar merupakan kelanjutan dari lapangan minyak yang ditemukan pada zaman pemerintah belanda. Sehingga tidak aneh bahwa penguasaan produksi migas tetap di kuasai oleh perusahaan asing.

Ekspor minyak mentah sebelum tahun 2000 , dilakukan karena kilang minyak di Indonesia kapasitasnya lebih kecil dari produksi minyak mentah. Sekarang produksi minyak cendrung menurun, terutama sumur minyak yang menjadi sumber pasokan kilang , sehingga pada kilang terjadi kekurangan pasokan minyak mentah, dan kekurangan ini di impor. Dan minyak yang di ekspor tetap di ekspor karena spesifikasinya kurang cocok dengan minyak yang digunakan di kilang.

Ekspor migas di Indonesia dibagi dalam 3 kelompok. Yaitu : (1) ekspor minyak mentah, (2) ekspor BBM, dan (3) ekspor non BBM.

Ekspor Minyak mentah
Minyak mentah dan kondensate tahun 2012 ekspor sebesar 15,6  juta ton,atau 31 persen dari ekspor migas.  dengan nilai 12,7 milyar USD atau 32 persen, yang bersumber dari beberapa daerah .  Besarnya ekspor minyak dari daerah Sumber, mencerminkan besarnya kapasitas produksi dari lapangan minyak yang berada  dekat pelabuhan ybs.

Ekspor minyak bersumber dari 11 provinsi dengan 20 pelabuhan ekspor.  Yaitu (1) provinsi Riau ( pelabuhan Dumai dan sungai pakning), (2) provinsi Kalimantan Timur ( pelabuhan tanjung santan, senipah, dan Balikpapan), (3) provinsi kepulauan Riau ( pelabuhan udang natuna),   (4)  Jawa Barat ( pelabuhan Arjuna java, Cinta Java, dan Balongan),   (5) provinsi jambi ( pelabuhan muara sabak), (6) provinsi Jawa Timur ( pelabuhan Tuban, gresik, sampan, dan kalianget),  (7) provinsi Bangka Belitung ( pelabuhan Muntok), (8) Provinsi Irian Jaya Barat ( pelabuhan bintuni, dan Sorong), (9) provinsi  Sulawesi Tengah ( pelabuhan Posso ), (10) provinsi Aceh ( pelabuhan blang lancing), (11)  Provinsi Maluku ( pelabuhan Ambon ).

Eksportir terbesar dari daerah Provinsi Riau, yaitu sebesar 6,8 juta ton, atau 43 persen ( pelabuhan Dumai 6,7 juta ton, S.pakning 0,1 juta ton ).  senilai 5,7 milyar USD, atau 44.7  persen dari ekspor minyak mentah.
Eksportir terbesar kedua adalah provinsi Kalimantan Timur sebesar 2,9 juta Ton, atau 19 persen (  pelabuhan tanjung santan = 1,6  juta ton, senipah 1,2  juta ton, dan Balikpapan 0,1 juta ton ), dengan nilai 2,4  milyar USD.

Eksportir ketiga terbesar adalah kepulauan Riau sebesar 1,4 juta Ton atau 9,1 persen dari pelabuhan Udang Natuna, senilai 1,2 milyar USD, atau 9,3  persen,

Eksportir keempat terbesar Prov Jawa barat sebesar 1,1  juta ton ( dengan pelabuhan Arjuna java, Balongan, cinta java ), atau 6,8  persen,  senilai 0,8 milyar USD atau 6,3 persen.
Daerah eksportir lainnya ( daerah Jambi, Jawa Timur, Bangka Belitung, Irian jaya Barat, Nangroe Aceh Darussalam, Maluku, Sulawesi Tengah ) 21,8 persen dari total ekspor minyak metah.

Ekspor BBM

Indonesia kekurangan pasokan BBM, karena kebutuhan akan BBM cendrung meningkat, sedang kapasitas kilang relative tetap ( selama belum ada pembangunan kilang baru). Kekurangan pasokan BBM ditutupi dengan impor. Ekspor dilakukan karena Indonesia terikat dengan perjanjian beberapa Negara untuk memasok BBM, oleh karena itu angka ekspor relative kecil .

Ekspor  BBM sebesar  1,0 juta Ton atau 3 persen, senilai 0,7 milyar USD atau 3 persen dari total ekspor migas. Ada 8 daerah peng ekspor BBM, yaitu : (1 ) Sumatra Utara, (2) Kalimantan Timur, (3)Jawa Tengah, (4) Banten, (5) Nusa Tenggara Timur, (6) Jawa Timur, (7) DKI Jakarta, (8) Kepulauan Riau.

Dearah terbesar ekspor BBM adalah (1)  Sumatra Utara 468 ribu Ton, atau 45 persen dari total ekspor BBM, (2) Kalimantan Timur 338 ribu Ton  atau 33 persen, (3) Jawa Tengah 134 ribu ton atau  13 persen , (4) Banten 52 ribu ton atau 5 persen, (5) Nusa Tenggara Timur 36 ribu ton atau 3,5 persen lainnya 8 ribu ton atau 0,8 persen.

Ekspor Non BBM

Ekspor Non BBM sebesar 32,3 juta Ton atau 66 persen dari total ekspor migas indonesia, senilai 23,5 milyar USD atau 63 persen. dari jumlah ini (1) ekspor LNG sebesar 20,6  juta ton, senilai 15 milyar USD, (2) Gas lain untuk bahan bakar sebesar  6,8 juta ton, senilai 5,2 milyar USD, (3)  bahan dasar untuk aspal sebesar 3,1 juta ton, senilai 2,3 milyar USD,(4) non BBM lainnya 1,8  juta Ton, senilai 1 milyar USD.
Ekspor LNG terbesar dari Kalimantan Timur, setelah itu IRJABAR, dan NAD terkecil.

Dari NAD cendrung menurun . Dari daerah  IRJABAR merupakan sumber yang relative baru, sehingga cendrung meningkat.
tabel
Ekspor LNG

Dlm juta ton
Dlm milyar USD
Irian Jaya Barat
7,3
3,1
 Kalimantan Timur
12,2
10,9
Nangroe Aceh Darussalam
1,1
1,0
total
20,6
15,0


tabel
Ekspor gas lain untuk bahan bakar

Dlm juta ton
Dlm milyar USD
Kepulauan Riau
6,8
5,2


Tabel
Ekspor bahan dasar aspal

dlm 000 ton
dlm 000 USD
Banten
7,8
1,9
Irian Jaya Barat
35,3
27,0
Irian Jaya Barat
23,6
14,0
Jawa Timur
102,3
75,1
Kalimantan Timur
2.053,8
1.470,2
Riau
500,5
409,0
Sumatera Selatan
429,5
307,272
total
3.152,9
2.304,5


Kesimpulan.

Ekspor Minyak Mentah didominasi pada 4 daerah provinsi, yaitu Riau, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan jawa Barat, sebesar 78,2  persen dari total ekspor minyak mentah.

EKSPOR  BBM dilakukan hanya untuk memenuhi perjanjian bilateral terhadap beberapa Negara.
Ekspor Non BBM mayoritas adalah Gas yaitu LNG dan gas lainnya sebesar 85 persen dari nilai total ekspor Non BBM.  Dan daerah eksportirnya adalah Riau, Kalimantan Timur, NAD. Dan Kepulauan Riau.



IMPOR MIGAS DAN SEBARANNYA
YUHALS

Impor Produk Migas dan turunan nya dilakukan sepanjang waktu. Hal ini karena kebutuhan migas tidak dapat ditutupi oleh produksi migas dalam negeri. Disamping itu,  dengan alasan ekonomi lebih menguntungkan impor produk migas tertentu, dibandingkan memproduksi nya.

Indonesia impor minyak mentah ( crude oil),  karena spesifikasi minyak produksi dalam negeri tidak cocok untuk beberapa kilang. oleh karena itu impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kilang  ybs.

Impor BBM dilakukan  karena konsumsi  BBM Dalam negeri terus meningkat, melebihi kapasitas produksi dari kilang minyak di Indonesia. Dan Impor merupakan jalan yang ditempuh pemerintah untuk memenuhi kekurangan pasokan BBM dari kilang dalam negeri. 

Impor produk Non BBM karena adanya permintaan non BBM dengan spesifikasi tertentu, dan produksi kilang minyak atau produksi kilang gas belum dapat memenuhinya. Disamping itu dalam masa era globalisasi,  impor dapat dilakukan oleh siapa saja, atas permintaan konsumen dalam negeri yang menghendaki produk petrokimia, karena alasan harga, kemasan atau lainnya.

Minyak mentah di impor selama ini untuk kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Karena kedua kilang inilah yang menggunakan pasokan minyak mentah impor, sesuai dengan kapasitas dan spesifikasi kilang. Untuk kilang lain masih menggunakan minyak produksi dalam negeri.

Impor BBM dilakukan pada daerah yang kekurangan pasokan BBM dan yang memiliki fasilitas tangki BBM (fuel  storage ) berukuran besar. Keberadaan tangki ini menjadi persyaratan utama. karena impor BBM dalam bentuk curah, akan menggunakan kapal tanker berkapasitas angkut besar. Untuk perdagangan internasional kapasitas minimal kapal tanker adalah  20.000 dwt, bila kurang dari itu sulit mendapatkan kapal yang bersangkutan, disamping harga angkut menjadi mahal.

Produk Non BBM digunakan untuk bahan baku dan penunjang kilang, industri, transportasi, dan rumah tangga. Bila dalam bentuk curah maka pelabuhan bongkar harus yang memiliki fasilitas tanki yang memadai. Pada pelabuhan umum lebih banyak impor produk Non BBM dalam bentuk kemasan ( kaleng, drum ), dan hal ini dapat dilakukan oleh importer umum.

Komoditi impor

Komoditi  impor yang ada dalam Harmonized system ( HS) untuk produk migas sebanyak 57 jenis, dan yang di impor 54 jenis. Dengan jumlah   44,3 juta ton, dengan nilai sebesar 42,6 milyar USD.
Dari jumlah tersebut impor minyak mentah dan condensate tahun 2012 sebesar 12,5  juta ton  atau sebesar 28 persen dari total impor migas. Dengan nilai sebesar 10,8  milyar USD atau sebesar 25 persen dari nilai impor migas.

Impor BBM sebesar 25,4  juta ton, atau sebesar 57 persen dari impor migas. Dengan nilai 25,6 milyar USD, atau sebesar 60 persen dari nilai impor migas tahun 2012. Impor non BBM sebesar 6,3  juta ton atau sebesar 14 persen dari impor migas, dengan nilai 6,1  milyar USD atau 14 persen dari nilai total migas.



Tabel
IMPOR MIGAS 2012
KETERANGAN
NILAI
BERAT
NILAI
BERAT
Milyar USD
Juta TON
PERSEN
PERSEN
CRUDE OIL DAN OTHER CRUDE
10,8
12,5
25
28
BBM
25,6
25,4
60
57
NON BBM
6,1
6,3
14
14
Sumber : diolah dari BPS


Penyebaran impor Minyak mentah
Penyebaran Impor minyak mentah dan kondensate tahun 2012 Sebanyak 62 persen untuk kebutuhan kilang Cilacap. Dan Sebesar  35 persen untuk kilang Balikpapan. Sedang untuk pelabuhan lain sebesar 3,4 persen.

Untuk kedua kilang ini ( kilang Cilacap dan Balikpapan) impor dilakukan secara rutin, dengan frekuensi impor yang besar . Sedang untuk kilang lainnya impor relative kecil dan tidak rutin.

Pada kilang cilacap, sumber   impor tahun 2012 berasal dari 12 negara. Yaitu angola, Australia, Azerbaijang, brunei Darussalam, republic korea, libiya, Malaysia, Negeria, Qatar, federasi Rusia, Saudi Arabia, dan Vietnam. Dengan Negara asal terbesar adalah pertama Saudi Arabia 52  persen, kedua Nigeria sebesar 20  persen, ketiga Brunei Darussalam sebesar  9   persen, dan negara  lainnya sebesar 18 persen.

Pada kilang Balikpapan,  impor berasal dari 14 negara yaitu: Azerbaidan, Negeria, Angola, Malaysia, Brunei Darussalam, Algeria, republik korea, Libiya, Turki, Federasi Rusia, Australia,Sudan, China, dan Vietnam.  Negara asal terbesar adalah pertama Azerbaidan sebesar 22  persen, kedua Nigeria sebesar 21 persen, ketiga Angola sebesar 13 persen, keempat Malaysia sebesar 12 persen, kelima Brunei Darussalam sebesar 7 persen, keenam Algeria sebesar 7 persen,  dan Negara lainnya sebesar 18 persen.

Penyebaran impor BBM

Penyebaran impor BBM pada  22 provinsi.  Provinsi tersebut adalah : Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, Kalimantan Timur, Sumatra Barat, Banten, Lampung, Sulawesi Selatan, Riau, Maluku, Papua, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Bali, Bengkulu, Sulawesi Utar, Bangka Belitung, dan Nusa Tanggara Barat.  

Provinsi yang terbesar impor BBM ada 9 Provinsi, yaitu :  (1)  Jawa Timur ( pelabuhan Tanjung Perak) sebesar 26,8 persen. (2) DKI Jakarta( pelabuhan Tanjung Priok) sebesar 13,7 persen. (3) Kalimantan Selatan ( pelabuhan Kotabaru) sebesar 10,2 persen.  (4) Jawa Barat ( pelabuhan Balongan)  sebesar 8,8 persen. (5) Jawa Tengah ( pelabuhan tanjung emas dan Cilacap)  sebesar 8,0 persen. (6) Kep. Riau (pelabuhan Panau dan Pulau Sambu) sebesar 6,4 persen. (7) Sumatra Utara ( pelabuhan Belawan) sebesar 4,8 persen. (8) Sumatra Barat ( pelabuhan teluk bayur)  sebesar 3,5 persen. (9) Banten ( pelabuhan Merak )  sebesar 3,1 persen. lainnya sebesar 10,6 persen.


Penyebaran impor Non BBM

Impor non BBM  terdiri dari  38  jenis barang non BBM, dengan jumlah  6,3 juta ton, dan nilai 6,1 milyar USD. Dari jenis barang Non BBM dibagi dalam 3 katagori, yaitu besar, menengah, dan kecil. katagori  besar ada 4 jenis barang. Katagori menengah ada 5 jenis medium, dan katagori kecil ada 29 jenis.

4 jenis barang yang besar adalah: (1)  Liquid butane, (2) naphtha, (3) liquid butane, dan (4) petroleum bitumen.
Jenis Non BBM menengah adalah (1)  lubricating oil basettock, (2) carbon black feedstock (3) other lubricating oils, (4) normal paraffin, dan (5) petroleum coke.
Impor empat jenis besar ini sebesar  5,4 juta ton , atau 85,8 persen. 5 jenis yang medium sebesar 0,6 juta ton, atau 9,9 persen. dan  Yang 29 kecil lainnya sebesar 0,3  juta ton, atau 4,8 persen.
Penyebaran 4 jenis produk Non BBM besar adalah :
(1) impor Liquid butane sebesar 1,8 juta ton. menyebar pada daerah  kepulauan riau sebesar 87 persen, dan jawa timur sebesar 12 persen, daerah lainnya 1 persen.
(2) impor Naftha sebesar 1,5 juta ton. menyebar pada daerah jawa barat sebesar 52 persen, daerah banten sebesar 47 persen. daerah lainnya sebesar 1 persen.
(3) Impor Liquid Propane sebesar 1,3 juta ton. menyebar pada daerah lampung sebesar 59 persen, daerah kepulauan riau sebesar 36 persen, daerah lainnya sebesar 5 persen.
(4) Impor Petroleum Bitumen sebesar 0,8 juta ton. Menyebar pada daerah Riau sebesar 31 persen, daerah Sumatra utara sebesar 25 persen, daerah Sumatra selatan sebesar 19 persen, daerah Nusa Tenggara Timur sebesar 11 persen, dan daerah lainnya sebesar 14 persen.

Kesimpulan

Impor migas tahun 2012  sebesar 44,3 juta ton, senilai 42,6 milyar USD. Terdiri dari 28 persen minyak mentah, 57 persen BBM, dan 14 persen non BBM. Dan akan terus meningkat karena permintaan masyarakat akan BBM  cendrung meningkat, sedangkan produksi dalam negeri cendrung menurun.

Impor minyak mentah 97 persen untuk kebutuhan kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Kilang cilacap 62 persen, dan kilang Balikpapan 35 persen. kedua kilang tersebut tidak sepenuhnya menggunakan minyak impor, tetapi dicampur dengan minyak mentah lokal. Melihat kondisi ini kilang tersebut bukan tidak dapat sepenuhnya menggunakan minyak lokal, tetapi berdasarkan pertimbangan optimalisasi operasional, pihak PT Pertamina menetapkan mencampurkan minyak mentah lokal dengan minyak impor.

Impor BBM ditetapkan pemerintah untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang cendrung meningkat, sedangkan kapasitas kilang minyak relative tetap. Kedepan peningkatan impor BBM akan terus terjadi, sampai pemerintah via PT Pertamina membangun kilang baru. Bila kilang baru dapat dioperasionalkan, maka peningkatan impor BBM akan digantikan dengan peningkatan impor minyak mentah, karena produksi minyak mentah Indonesia cendrung menurun.

Penyebaran daerah yang mengimpor BBM pada 22 provinsi, dan yang besar  pada 9 provinsi, yang memiliki aktifitas ekonomi yang tinggi.

Impor produk Non BBM diwarnai dengan impor LPG ( Liquid butane, dan liquid propane ), hal ini karena kebijakan pemerintah konversi minyak tanah ke LPG. Penyebaran utama liquid butane adalah kepulauan Riau 87 persen, jawa timur 12 persen. penyebaran liquid propane pada daerah lampung 59  persen, dan Kepulauan Riau 36 persen. dari kedua jenis LPG ini daerah Kepulauan Riau merupakan importer utama. Hal ini tampaknya LPG digunakan sebagai pendukung kegiatan industri perminyakan.

Penyebaran produk Non BBM Naftha adalah daerah jawa barat 52 persen, dan Banten 47 persen. Hal ini terkait dengan naphtha sebagai bahan pencampur BBM , dan bahan baku industri. Untuk produk petroleum bitumen penyebaran pada daerah Riau 31 persen, Sumatra Utara 25 persen, Sumatra selatan 19 prsen, dan NTT 11 persen, menunjukan bahwa daerah tersebut banyak pembangunan infra struktur.

Jakarta, 25 April 2012



KILANG MINYAK DI INDONESIA
YUHALS

Indonesia memiliki 10 (sepuluh) kilang minyak, 8 kilang milik  PT Pertamina (Persero) dan 2 kilang milik Badan Usaha swasta dengan total kapasitas pengolahan kilang minyak adalah sebesar 1,156 juta barrel per hari atau 420,1 juta barel pertahun. 


kapasitas kilang PT Pertamina yaitu Pangkalan Brandan berkapasitas pengolahan 4,5 ribu barrel per hari (sudah tidak beroperasi sejak 2007), Dumai (127 ribu barrel per hari atau 46,4 juta barel pertahun), Sungai Pakning (50 ribu barrel per hari atau 18,2 juta barel pertahun ), Musi (127,3 ribu barrel per hari atau 46,5 juta barel pertahun), Cilacap (348 ribu barrel per hari atau 127,0 juta barel pertahun), Balikpapan (260 ribu barrel per hari atau 94,9 juta barel pertahun), Balongan (125 ribu barrel per hari atau 45,6 juta barel pertahun ), serta Kasim (10 ribu barrel per hari atau 3,6 juta barel pertahun ). Selain itu terdapat kilang minyak yang dikelola Pusdiklat Migas Cepu berkapasitas 3,8 ribu barrel per hari atau 1,4 juta barel pertahun . kilang minyak yang dimiliki badan usaha swasta yaitu PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) berlokasi di Tuban dengan kapasitas 100 ribu barrel per hari atau 36,5 juta barel pertahun bahan baku kondensat).  dan  Tri wahana Universal ( TWU )  belum ada datanya. *) diolah dari ditjen Migas


Dari 10 kilang minyak yang berproduksi di Indonesia Tahun 2011 , memproduksi 10 jenis BBM dan 36 jenis non BBM. Dengan Produksi BBM sebesar 240,3 juta barel atau sebesar 70,1 persen, dan 102,5 juta barel non  BBM atau sebesar 29,9 persen, total produksi BBM dan Non BBM sebesar 342,8 juta barel.
Untuk memproduksi BBM dan Non BBM tersebut dibutuhkan pasokan sebesar   296,9 juta barel minyak mentah ( produksi domestik   218,6 juta barel, impor  78,3 juta barel) atau 81,2 persen, kondensate sebesar 24,1 juta barel atau 6,6 persen, dan  bahan lain sebesar 44,8 juta barel atau 12,2 persen. total pasokan 365,8 juta barel.
Secara persentase dari pasokan sebesar 365,8 juta barel menghasilkan 342,8 juta barel BBM dan Non BBM, atau sebesar  93,7 persen dari pasokan bahan.

Produktivitas
Produktivitas diukur dari  pasokan bahan di bagi kapasitas  terpasang kilang. makin tinggi  ratio yang dihasilkan berarti makin produktif kilang yang bersangkutan.
Pasokan total kilang Indonesia  tahun 2011 sebesar 365,8  juta barel, sedang kapasitas produksi 420,1  juta barel pertahun. Produktivitas Sebesar 87,1 persen,  tingkat produktivitas cukup baik.

Tingkat produktivitas kilang dumai sebesar 98,8 persen,  kilang S.Pakning sebesar 79,2 persen, kilang Musi sebesar 79,2 persen, cilacap sebesar 84,0 persen, Balikpapan sebesar 90,0 persen, balongan 127,5 persen, kasim 0,2 persen, cepu 25,0 persen, TPPI sebesar 55,5 persen.

Kilang minyak yang miliki tingkat produksi besar relative memiliki tingkat produktivitas cukup baik. Pada Kilang balongan 127,5 persen, berarti sudah over kapasitas. Hal ini dapat mempercepat proses kerusakan mesin, karena  berproduksi diatas kemampuan.
 Kilang minyak yang memiliki produktivitas dibawah 75 persen, harus dapat meningkatkan produktivitasnya, karena tingkat produktivitas yang rendah akan mengakibatkan kerugian .

Produksi BBM

Produksi BBM tahun 2006 sebesar  251,0 juta barel, tahun 2009 sebesar 254,9 juta barel berarti  naik sebesar 1,5 persen,  dan tahun 2011 sebesar 240,3 juta barel, berarti  turun 4,3 persen dibanding tahun 2006.
Dari BBM yang di produksi tahun 2011, ada 2 jenis yang terbesar adalah premium sebesar 64,4 juta barel atau 26,8 persen, dan solar (HSD) sebesar 119,6 juta barel atau sebesar 49,8 persen. Kedua jenis ini diproduksi sebesar 184,0 juta barel atau   76,6 persen dari produksi BBM nasional.

Produksi BBM lainnya adalah avtur  17,1 juta barel, kerosene 14,4 juta barel, diesel oil/IDO  1,4 juta barel, fuel oil/IFO 20,3 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,4 juta barel, pertadex 0,03 juta barel

Produksi BBM masing masing kilang tahun 2011 adalah kilang dumai 36,1 juta barel atau sebesar 15 persen, kilang s.pakning sebesar 4,0 juta barel atau sebesar 1,7 persen, kilang Musi sebesar 23,6 juta barel atau 9,8 persen, kilang cilacap sebesar 80,0 juta barel atau 33,3 persen, kilang Balikpapan sebesar 61,5  juta barel atau 25,6 persen, kilang Balongan sebesar 31,7  juta barel atau 13,2 persen, kilang kasim sebesar 3 ribu barel, kilang cepu sebesar 162  ribu barel atau 0,1 persen, kilang TPPI sebesar 3,2 juta barel atau 1,3 persen, dan kilang TWU tidak ada data. Untuk produksi BBM terbesar adalah kilang cilacap, setelah itu kilang balik papan, Dumai , dan Balongan.

Produksi Non BBM

Jenis produksi non BBM  yang terbesar adalah naptha sebesar 28,6 juta barel atau 27,9 persen, LSWR sebesar 24,0 juta barel atau 23,4 persen, HOMC sebesar 11,9 juta barel atau  11,6 persen, dan LPG sebesar 9,1 juta barel atau 8,9 persen. jadi produksi LPG pada kilang minyak menduduki  urutan ke empat.

Produksi Non BBM dari kilang minyak sangat menarik, karena perkembangannya sangat cepat tahun 2006 produksi sebesar 20,1 juta barel, tahun 2009 naik menjadi 88,2 juta barel berarti  naik 439 persen atau 4 kali lebih, dan tahun 2011 naik menjadi 102,5 juta barel atau naik 510 persen dibanding  tahun 2006. Dengan peningkatan produksi non BBM yang cukup besar dan tingkat produktivitas yang tinggi pada kilang minyak, maka akan mengurangi produksi BBM, karena sebagian kapasitas produksi dialihkan untuk produksi Non BBM.

Tidak semua kilang memproduksi semua jenis produk non BBM, tergantung dari : spesifikasi  minyak mentah yang dipasok, peralatan dari kilang, dan optimalisasi produk.

Dari 36 produk yang dihasilkan oleh kilang ada 13 jenis produk non BBM yang produksinya diatas 1 juta barel tahun 2011. yaitu (1) LPG, (2) Lube base oil, (3) aspalt, (4) Naptha, (5)  LSWR, (6) LSFO,(7) Green coke, (8) HOMC, (9) propylene,  (10) benzene, (11) pararaxylene, (12) unconverted oil, (13) decant oil. Prodvuksi ke 13 jenis non BBM ini tahun 2011 sebesar 100,4 juta barel, atau 97,9 persen dari total produk non BBM.

Produksi LPG tahun 2011 oleh kilang dumai  0,4 juta barel, musi 1.2 juta barel, cilacap 1.3 juta barel, Balikpapan sebesar 1,3 juta barel, balongan 4,3 juta barel, TPPI 0,9 juta barel. Total  9,1 juta barel.

Produk Lube base oil di produksi kilang cilacap sebesar 3,0 juta barel. Aspalt diproduksi oleh cilacap 2,0 juta barel.

Naptha diproduksi oleh kilang dumai 0,3 juta barel, s.pakning 0,8 juta barel, Musi  6,2 jura barel, cilacap 8,9 juta barel, Balikpapan 6,7 juta barel, cepu 0,09 juta barel, TPPI 5,6 jta barel, total 28,6 juta barel.

LSWR diproduksi oleh dumai 0,2 juta barel, s.pakning 7,0 juta barel, cillacap 3,8 juta barel, balik papan 13 juta barel, total 24 juta barel. LSFO diproduksi oleh musi sebesar 4,6 juta barel.

Green coke diproduksi oleh  Dumai 2,2 juta barel. HOMC diproduksin oleh balongan sebesar 11,9 juta barel. Propylene diproduksi oleh balongan 1,9 juta barel. Benzene diproduksi oleh TPPI sebesar 2,2 juta barel. Paraxylene diproduksi oleh TPPI sebesar 4,4 juta barel. Unconverted oil diproduksi oleh dumai 2,4 juta barel. Decant oil diproduksi oleh balongan  sebesar 4,1 juta barel.

Kondisi masing-masing kilang.
Secara persentase tahun 2011 dari pasokan (input) sebesar 365,8 juta barel menghasilkan (output) 342,8 juta barel ( BBM dan Non BBM), atau sebesar  93,7 persen.

kilang Dumai.
Bahan baku yang dipasok berupa  minyak mentah ( crude oil ) sebesar 37,8 juta barel, bahan lainnya 8,0 juta barel, total 45,8 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 41,6 juta barel atau  90,8 persen. berupa BBM sebesar  36,1 BBM atau 86,7 persen, dan non BBM sebesar 5,5 juta barel atau 13,3 persen.
BBM yang di hasil oleh kilang Dumai adalah  avtur 2,7 juta barel atau 7,5 persen. premium  6,4 juta barel atau 17,8 persen. kerosene 0,8 juta barel  atau 2,3 pesen. gas oil/HSD/ solar 30,0 juta barel atau 26 persen. fuel oil/MFO 0,2 juta barel atau 0,4 persen.
Produk non BBM yang dihasilkan sebesar 5,5 juta barel . berupa  LPG  sebesar 0,4 juta barel atau 8,0 persen. naptha 0,3 juta barel atau 5,3 persen. LSWR 0,2 juta barel atau 3,2 persen. green coke 2,4 juta barel atau 43,3 persen.

Kilang S.Pakning
Bahan baku yang dipasok tahun 2011. minyak mentah ( crude oil ) adalah sebesar 12,2 juta barel, bahan lainnya 0,1 juta barel, total 12,4 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 11,9 juta barel atau sebesar   96  persen. Berupa BBM sebesar  4,0 juta barel atau 33,7 persen, dan Non BBm sebesar 7,9 juta barel atau 66,3 persen.

BBM yang dihasilkan berupa kerosine sebesar  1,5 juta barel, gas oil/HSD/ solar sebesar 2,5 
juta barel.
Produk Non BBM yang dihasilkan Naptha 0,8 juta barel, LSWR sebesar  7,0 juta barel.


Kilang Musi
Pasokan minyak mentah sebesar 29,3 juta barel, condensate sebesar 3,9 juta barel, bahan lainnya sebesar 3,7 juta barel. Total pasokan bahan sebesar 36,8 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah BBM sebesar 23,6 juta barel, Non BBM sebesar 12,3 juta barel. Total produksi sebesar 35,9 juta barel, Jadi berarti  64,1 persen .

BBM yang dihasilkan kilang musi sebesar    23,6 ,juta barel. Terdiri dari avtur 0.4 juta barel, premium 6,9 juta barel, kerosene 1,2 juta barel, gas oil/hsd/solar 10,7 juta barel, diesel oil/ido/mdf  0,4 juta barel, fuel oil/ifo/mfo  4,1 juta barel.

Non BBm yang diproduksi kilang musi sebesar 12,3 juta barel, terdiri dari LPG 1,2 juta barel, Naptha 6,2 juta barel, LSFO 4,6 juta barel, lainnya 0,3 juta barel.

kilang cilacap
Pasokan kilang cilacap sebesar minyak mentah 44,8 juta barel, impor minyak mentah 55,9 juta barel, bahan lainnya 5,9 juta barel, total pasokan sebesar 106,7 juta barel. 
Mengahasilkan BBM sebesar 80 juta barel, dan Non BBM sebesar 19,7 juta barel. Total produksi 99,7 juta barel, atau 93,5 persen.

juta barel, gas oil/hsd/solar 30,3 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,8 juta barel, fuel oil/dco/ifo 16,0 juta barel. Total produk BBM sebesar 80,0 juta barel.

Produksi non BBM,  LPG 1,3 juta barel, lube base oil 3,1 juta barel, asphalt 2,0 juta barel, naptha 8,9 juta barel, LSWR 3,8 juta barel, lainnya 0,6 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 19,7 juta barel.

kilang Balikpapan
Pasokan kilang Balikpapan , minyak mentah sebesar 79,1 juta barel ( minyak domestik  56,7 juta barel , minyak mentah impor 22,4 juta barel ) , bahan lain 6,3 juta barel. Total pasokan sebesar 85,4 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar 61,5 juta barel, dan non BBM sebesar 21,1 juta barel. Total produksi sebesar 82,6 juta barel, atau 96,7 persen.

BBM yang dihasilkan terdiri dari avtur sebesar 5,5 juta barel,premium 14,3 juta barel, kerosene 7,4 juta barel, gas oil/hsd/solar 33,9 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,1 juta barel, fuel oil/ifo 0,01 juta barel. Total produkssi bbm sebesar 61,2 juta barel.

Produksi non BBM terdiri dari  LPG sebesar 1,0 juta barel, naptha 6,7 juta barel, LSWR 13 juta barel, lainya 0,5 juta bare. Total produksi non BBM sebesar 21,1 juta barel. atau  92,4 persen.

kilang balongan
Pasokan kilang minyak balongan terdiri dari minyak mentah 37,5 juta barel, bahan lainnya 20,7 juta barel. Total pasokan sebesar 58,2 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar  31,7 Juta barel,  dan produk non BBM sebesar 22,1 juta barel. Total produksi sebesar 53,8 juta barel.

BBM yang diproduksi  premium 15,7 juta barel, kerosene 0.2 juta barel, gas oil/HSD/Solar 12,8 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,2 juta barel, pertadex 0,03 juta barel, total BBM sebesar  31,7 juta barel.

Produksi non BBM  terdiri dari LPG sebesar 4,3 juta barel, HOMC sebesar 11,9 juta barel, propylene sebesar 1,9 juta barel, Decant oil sebesar 4,1 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 22,1 juta barel.

Kilang TPPI
Pasokan yang digunakan pada kilang TPPI tidak menggunakan minyak mentah, yang digunakan  adalah kondensate  sebesar  20,2 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah  BBM sebesar 3,2 juta barel, dan non BBM sebesar 13,7 juta barel. total yang diproduksi sebesar 16,9 juta barel, atau 83,7 persen.

BBM yang diproduksi adalah  Gas oil/HSD/ Solar sebesar 3,2 juta barel.
Produksi non BBM adalah LPG sebesar 0,9 juta barel, Naptha sebesar 5,6 juta barel, Benzene sebesar 2,2 jura barel, paraxylene sebesar 4,4 juta barel , produk lainnya 0,6 juta barel.Total produk Non BBM sebesar  13,7 juta barel.

Kilang Kasim dan Cepu relative kecil. kilang Tri Wahana Universal ( TWU ) tidak ada data.

Kesimpulan
1.        Dari 10 kilang minyak yang ada 1 kilang tidak memberikan laporan   ( TWU), 1 kilang kurang aktif ( kasim), 1 kilang skala kecil ( kilang cepu ). Untuk 7 ( tujuh) produktivitasnya baik.
2.        Semua kilang menjadikan minyak mentah produksi domestic sebagai bahan baku, kecuali TPPI menggunakan kondensat domestic, dan 2 (dua ) kilang menggunakan minyak mentah impor sebagai tambahan pasokan bahan baku yang kurang, yaitu kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Dari kondisi ini bila terjadi pengurangan ekspor minyak mentah produksi domestik maka akan dapat diserap oleh kilang minyak yang ada. Bila pemerintah akan membangun kilang baru berarti pasokan minyak mentahnya didapat dari impor.
3.        Produksi BBM terjadi penurunan walaupun kecil, dan penurunan kapasitas untuk produksi BBM ini di alaihkan untuk meningkatkan produksi non BBM.

Jakarta, 4 April 2013